Rabu, 29 September 2021

Jika Matahari Mati, Apa Yang Terjadi Pada Bumi dan Manusia?

Jika Matahari Mati, Apa Yang Terjadi Pada Bumi dan Manusia?

Besok Gerhana Matahari Cincin, Bisa Dilihat dari Mana Saja? : Okezone  Nasional

Matahari selalu menyinari Bumi setiap hari hingga saat ini. Namun apa yang bakal terjadi jika Matahari mati dan berhenti menyinari Bumi?

Jika skenario itu terjadi, kemungkinan manusia di Bumi tidak akan mengetahuinya hingga sekitar 8,5 menit kemudian. Sebab tidak ada yang bergerak lebih cepat dari cahaya termasuk tarikan gravitasi, dan kita tidak menyadari ada sesuatu yang hilang.

Namun berikutnya Matahari akan tiba-tiba menghilang dan Bumi akan diselimuti kegelapan. Lalu planet ini akan melakukan perjalanan ke ruang antar bintang dengan kecepatan 18 mil per detik, dikutip dari Futurism, Selasa (28/9/2021).

Dua detik kemudian, Bulan yang biasanya memantulkan sinar matahari juga menjadi gelap. Termasuk juga planet di tata surya yang berkedip terlihat di Bumi juga berhenti memantulkan sinar matahari.

Lalu suhu di Bumi akan turun dan mulai membeku. Futurism mencatat butuh jutaan tahun untuk Bumi menjadi beku padat namun di bagian permukaan suhu akan turun di bawah 0 derajat celcius dalam minggu pertama lalu minus 100 derajat celcius pada tahun pertama.

Selanjutnya suhu akan stabil di suhu minus 240 derajat celcius selama beberapa juta tahun, sementara energi panas Bumi juga masih bekerja.

Fotosintesis yang biasanya dibantu matahari juga akan berhenti, dan seluruh tanaman akan mati. Sebagian besar Spesies juga hanya bertahan dalam waktu singkat sebelum musnah.

Selanjutnya populasi manusia juga akan musnah. Beberapa di antara mereka memilih berpindah ke dekat pusat Bumi dan hidup dari energi panas Bumi.

Lalu Bumi akan membeku dan menjadi bongkahan batu yang kokoh serta beku dan berjalan di ruang angkasa.

Senin, 20 September 2021

Radikalisme Telah Tumbuh di TNI dan Polri ?

Radikalisme Telah Tumbuh di TNI dan Polri ?

Tidak Ada Islam Dalam Tubuh ISIS | PinterPolitik.com

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan menyoroti dinamika radikalisasi di kalangan aparat, khususnya di tubuh TNI dan POLRI

Menurut Ken, saat ini radikalisasi terjadi di semua lini. Benar-benar tidak ada yang steril. Setiap hari mata kita dibikin terbelalak, dengan fenomena-fenomena baru, masifnya radikalisme.

Ketika Menteri Pertahanan menyatakan bahwa 3% TNI terpapar radikalisme, kita semua kaget, ternyata radikalisme sudah menembus benteng terakhir pertahanan NKRI. Belum selesai kekagetan kita, disusul munculnya riak-riak radikalisasi di tubuh Polri, dengan munculnya komunitas Polri Cinta Sunah.

Kapolri menurut Ken sampai saat ini belum berani mengambil sikap atas hal ini karena di lematis, secara kayakinan agama bukan Islam, jadi mungkin banyak pertimbangan, bisa dianggap anti Islam jika menindak dan memproses pelaku cinta sunnah.

Ken juga akhir akhir ini melihat fenomena istilah hijrah, bahkan kini muncul banyak komunitas tentang hijrah yang digandrungi kalangan milenial, bahkan artis juga tiba tiba ikut ikutan hijrah.

Secara istilah, hijrah memang baik. Sayangnya hijrah yang selama ini nge-trend justru yang mengarah pada radikalisme, sehingga hijrahnya awalnya dari nakal berubah rajin ibadah berubah "Dari nakal, menuju radikal". Dan yang sampai sekarang belum ketemu jawabannya adalah faktor apa yang membuat TNI-Polri bisa teradikalisasi. Bisa jadi memang ada infiltrasi agenda kelompok rasikal untuj kudeta, sehingga mereka merekrut aparat. Jelas Ken.

Tidak salah berjenggot dan bergamis, tapi kalau ada polisi dan tentara bergamis dan bergamis gimana gitu, saya rasa ada kode etik di internal aparat kita yang tidak memperbokehkan hal itu. Jelas Ken.

Maka ketika ada polisi atau tentara bergabung dengan Salafi Wahabi dan sejenisnya, kemungkinannya hanya satu yaitu nasionalismenya hilang dan berubah jadi arabisasi, sebab kelompok tersebutlah yang selalu teriak anti adat budaya tradisional nusantara.

Baik Salafi Wahabi, Ihwanul Muslimin, dan HTI ideologinya mirip-mirip, ketemu dalam hal sama-sama menolak budaya, adat, dan tradisi, karena itu semua dianggap kreasi manusia (ro'yu). Tolak ukur boleh tidaknya perbuatan adalah amalan Sunnah atau bukan. bila tidak sesuai kaidah mereka maka divonis Bid'ah.

Jadi kalau ada Polisi Cinta Sunah, maka otomatis ada Polisi Bid'ah, wah bahaya itu. Terang Ken.

Konsekuensinya, upacara bendera, doa bersama dengan agama lain, dan ritual lainnya, yang tidak termasuk Sunnah, adalah bid'ah, fasiq, dan kafir. Bayangkan, apa jadinya jika ideologi semacam itu yang diyakini oleh anggota polisi.

Selaku eks pelaku radikalisme, Ken menyarankan agar Polri dan TNI mencari ormas atau kelompok keagamaan yang terbukti cinta NKRI. Yang menyadari bahwa NKRI adalah bumi sujud kita.

Kesalehan itu baik, penyalurannyapun harus baik dalam bingkai agama yang berwawasan kebangsaan. Jangan yang melawan negara. Jangan sampai salah mencari guru/ustadz, karena akibatnya akan menyesal di kemudian hari, ya seperti saya yang pernah jatuh dalam kubangan hitam radikalisme. Jelas Ken.

Beragama bagi Ken bukan hanya bicara ritual formal saja, kelihatan rajin ibadah, dengan adzan lagsung ke masjid dan tampilan agamis, tapi juga bicara ahlak dan etika dalam menjalankan tugas bernegara.

Lucu kan bila ada Polisi tidak mau jamaah dengan masyarakat karena ada qunut dalam sholat dan tahlil serta tidak mau hormat bendera dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya karena dianggap bid'ah dan syirik.

Jika Kapolri tidak menganggap ini serius maka ini akan jadi preseden buruk bila membiarkannya, karena disatu sisi Densus 88 yang juga bagian dari aparat kepolisian getol menangkap pelaku teror, jangan salah bila suatu saat Polri Cinta Sunnah ini besar maka dilematis ini akan akan menjadi senjata makan tuan. Tutup Ken.


Sumber: https://niicrisiscenter.com/2021/09/20/ken-setiawan-kapolri-dilematis-hadapi-fenomena-polri-cinta-sunnah

Jumat, 17 September 2021

MELAWAN FITNAH SEJARAH PAGANISME DAN KANIBALISME

MELAWAN FITNAH SEJARAH PAGANISME DAN KANIBALISME

Melacak Jejak Kerajaan Panai di Tanah Batak - Historia

Suku asli Nusantara terdahulu "Batak" adalah "Paganisme" juga "Kanibalisme".......benarkah...?

Simak klarifikasinya :
Sejak abad ke-2 M dan selama satu milenium terpublikasi lewat tulisan Ptolemaeus, Sumatra bagian utara dianggap sebagai daerah berbahaya karena diduga dihuni oleh sejumlah masyarakat "Kanibal"

Sebelum dan sesudah abad ke-5-6 M, melalui sebuah tempat yang bernama "Barus" wilayah kaya dengan kamper, yang diekspor ke Eropa....karena inilah isyu dan publikasi di hembuskan bangsa lain "memfitnah" untuk menguasai nya...

Gambaran tentang publikasi di atas jelas
dengan persinggahan Marco Polo di bagian Utara Sumatra tahun 1291, Ia adalah orang pertama yang mencatat kehadiran Islam yang bermukim di kota-kota pesisir dan menyebut masyarakatnya mayoritas penganut paganisme yang biadab dan sebagian kanibal yang tinggal di pegunungan dan belum dikenal dunia luar

Pada awal abad ke 13 M, Zhao Rugua mencatat sebuah negeri bernama Pa-t'a, di
bawah kuasa Sriwijaya, Sejarah resmi dinasti Yuan (Yuanshi) mencatat kedatangan utusan dari Ma-da di istana maharaja Tiongkok
pada tahun 1285

Kaitan antara Pa-t'a dan "Bata"...adalah suku kata "ma" diucapkan "ba" dalam dialek yang digunakan di bagian selatan Fujian,nama tempat ini adalah "Bata", Tetapi kedua sumber Tionghoa ini tidak mengaitkan nama negeri "Bata" dengan sebuah masyarakat kanibal, masyarakat nya beradat yang sama
dengan masyarakat di Jawa dan di Melaka,
tambahan informasi juga mengenai adanya orang-orang bertato

'Pires' mencatat tiga tempat yang menjadi pusat aktivitas dengan pedagang asing di Pesisir Timur Laut, yaitu Bata (di selatan Pasai) dengan barang perdagangan utama rotan, Aru yang memiliki
cukup banyak kamper dan banyak kemenyan, serta Arcat

Nama suku "Bata" muncul dari Fernão Men-des Pinto, (1509-1583) orang Eropa
pertama yang pernah pergi ke pedalaman utara
Sumatra dan meninggalkan jejak tertulis.

Dalam karyanya berjudul Peregrinação,penjelajah Portugis ini di antaranya mencatat kunjungan duta "Raja
orang Bata" ke kapten Melaka yang baru, Pedro de Faria, tahun 1539.Mendes Pinto antara lain melaporkan bahwa raja ini penganut paganisme

Duarte Barbosa (1480-1521) juga menulis
tentang kerajaan Aru yang ketika itu dikuasai oleh orang-orang kanibal penganut paganisme

Nicolo de' Conti tinggal selama setahun di kota
Sciamuthera (Samudra) tahun 1430 dan menjadi orang pertama yang menyebut nama tempat "Batech" yang gemar berperang

Awal
abad ke-16 melalui Tomé Pires yang menyebut
"Seorang Raja dari Bata" dalam laporannya Sumatra
Oriental (1512-1515)

Nama suku "Batang" muncul dalam sumber-sumber Arab lima belas tahun sesudah kisah Pinto. Penyair dan sastrawan Turki Sidi 'Ali Celebi tahun 1554
menyebut tentang pemakan manusia yang ber-
mukim di bagian barat Pulau Sumatra

Tahun 1563, Joao de Barros menggunakan kembali nama suku "Batas" dan menyebutkan bahwa masyarakat kanibal "yang paling liar dan paling gemar berperang sedunia" ini menghuni bagian pulau yang berhadapan dengan Melaka

Sudut pandangnya mengenai geografi suku-suku hanya mengulang pandangan yang sudah berumur hampir tiga abad lalu, yang menghadapkan kaum "Moros" (orang Islam), yakni orang asing yang datang untuk berdagang dan bermukim di daerah pantai, dengan kaum "Gentios" (penganut paga-
nisme), penduduk asli di daerah pedalaman

Charles Miller masuk ke pedalaman Tapanuli tahun 1772.Miller terkesan oleh keberagaman bahasa penduduk di pedalaman,menulis tentang sebuah masyarakat kanibal bernama "Battas" yang berbeda dari semua penduduk lain di Sumatra , Sepuluh tahun kemudi-
an diterbitkan sintesis-sintesis pertama tentang Sumatra, yaitu sebuah artikel oleh Radermacher (1781) dan karya William Marsden yang terkenal, History of Sumatra (1783)

Semua catatan bangsa lain diatas menulis dan mempublikasikan suku asli terdahulu "Batak" adalah "Paganisme" juga "Kanibalisme"...benarkah....?

Ada banyak perdebatan ilmiah mengenai asal-usul istilah "Paganisme" ,terutama karena sebelum abad ke 20 tidak ada satu pun yg mengidentifikasi diri sebagai Paganism

"Paganisme" adalah istilah yang pertama muncul di antara komunitas Kristen dari Eropa selatan selama akhir zaman sebagai "Descriptor" dari agama-agama lain selain mereka sendiri atau terkait agama-agama Ibrahim yaitu Yudaisme dan Islam

Setelah agama-agama Ibrahim mulai menjadi lebih banyak diadopsi,yang dikenal sebagai Kristenisasi dan Islamisasi,Berbagai nama dan istilah di buat untuk menggambarkan orang-orang yang tidak mematuhi agama Ibrahim tersebut, mereka mulai berkembang beberapa di antaranya termasuk "Hellene" , "Pagan" ,pada awal nya nama-nama ini digunakan sebagai penyebutan kepada ajaran selain yg di bawa Ibrahim

Pada abad ke-19, paganisme itu kembali diadopsi sebagai "Self-Descriptor" oleh anggota berbagai kelompok yg terinspirasi oleh dunia kuno....

....jadi istilah "Paganisme" baru ada pada abad 19 ...dan tulisan diatas tentang "Paganisme" sebelum abad 19 di Sumatra adalah "Mustahil"....

Perhatikan lagi...ini hal yang lebih penting guna meng klarifikasi "Publikasi" bangsa lain terhadap suku asli Nusantara "Parmalim #Batak"...

Tentang  Parmalim, Tercatat sudah ada pada  1450 tahun Batak atau Tahun 497 Masehi,...ini lebih dahulu ada sebelum orang orang eropa datang membawa rempah rempah ke negrinya

1. Mulajadi Na Bolon,Adalah sebutan Tuhan Yang Maha Besar tempat semua makhluk berasal
2. Tempat Ibadah: Bale Parpitaan dan Bale Partonggoan
3. Kita Suci: Tumbaga Holing
4. Pembawa Agama AtauTokoh Spiritual: Raja Uti
5. Pantangan: Riba, Makan Darah, Babi dan Anjing serta Monyet

Dalam budaya adatnya terdapat :
  Martutu Aek, Ritual pembabtisan dan pemberian nama seorang bayi pada hari ketujuh kelahirannya
  Pasahat Tondi, Upacara kematian
Samisara/Mararisantu, peribadatan setiap hari sabtu
  Mardebata, Peribadatan atas niat seseorang
  Mangan Mapaet, Peribadatan memohon penghapusan dosa
  Sipaha Sada, Peribadatan hari memperingati kelahiran Simarimbulubosi
  Sipaha Lima, Peribadatan hari persembahan/kurban
  Subang Bolon , Pantangan besar atau diharamkan memakan daging babi, kucing, anjing, binatang-binatang liar lainnya dan darahnya

Tidak ada tercermin Paganisme pada budaya #Parmalim Batak"...Juga pantangan besarnya adalah diharamkan memakan daging babi, kucing, anjing, binatang-binatang liar lainnya juga darahnya....bagaimana ini bisa di sebut #Kanibalisme" jika darah hewan saja adalah pantangan besarnya....

Maka tinggalkan catatan sejarah versi penjajah...


INDONËSIARYĀ
True Back History of Indonesia
Exploration & Research
By : #Santosaba
(Revicionist History )
Chat on  : bit.ly/3xmsE37
https://santosaba.catalog.to
https://anchor.fm/santo-saba
http://msha.ke/santosaba

Sabtu, 11 September 2021

Soekarno di Mata Orang Afrika

Ben Mboi: 'Mohon Maaf Bung Karno'
"Soekarno di Mata Orang Afrika"

Soekarno Penggemar Berat Sate, Punya Tempat Sate Favorit di Bandung

BRIGJEN TNI (Purn.) dr. Aloysius Benedictus Mboi, MPH adalah Gubernur NTT (Nusa Tenggara Timur) dua periode (1978-1988).

Ben Mboi, demikian nama populernya, lahir di Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, 22 Mei 1935, kemudian meninggal di Jakarta, 23 Juni 2015 pada umur 80 tahun.

Beliau salah satu dari ratusan anggota DPRGR/MPRS yang memberhentikan Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia dan melantik Soeharto sebagai presiden pada 27 Maret 1968.

Namun, kemudian dia menyesal setelah sebuah pengalaman menyentaknya ketika bertemu dengan orang-orang Afrika.

Ben Mboi menceritakan pengalamannya itu dalam Memoar "Seorang Dokter, Prajurit, Pamong Praja".

Pada 1971 dia mengambil gelar Master of Public Health di Belgia. Di sana, dia bertemu dokter-dokter dari Afrika dan Timur Tengah, antara lain Tanzania, Uganda, Kongo, Kamerun, Nigeria, Mesir, Irak, Iran, dan Kuwait.

Mereka bertanya, "Anda dari mana?"

Ben menjawab dari Indonesia.

"Oh Indonesia Soekarno?"

"Tidak," kata Ben. "Indonesia Soeharto!"

"Di mana Soekarno?"

"Soekarno sudah disingkirkan dan sudah meninggal."

"Kenapa dia disingkirkan?

"Ben menjawab seperti mode pada saat itu, "Soekarno bersimpati terhadap komunisme."

"Apa?…… Karena bersimpati pada komunis kamu singkirkan dia? Dia yang membawa kamu jadi merdeka, kamu singkirkan hanya karena dia bersimpati pada komunis? Astaga, kamu lebih pentingkan komunisme daripada kemerdekaan? Kamu tidak tahu terima kasih!"

"Supaya Anda tahu, kami orang Afrika merdeka oleh getaran yang digerakkan oleh Soekarno, yang membangkitkan harga diri dan patriotisme orang Afrika.

Aneh, …dia yang bawa kamu ke pintu gerbang kemerdekaan malah kamu singkirkan!"

"Saya tidak dapat menjawab. Betapa pentingnya makna kemerdekaan itu. Betapa pentingnya seorang Bapak Bangsa itu, yang membawa kita ke pintu gerbang kemerdekaan," kata Ben Mboi yang kemudian menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur.

Salah satu getaran yang digerakkan Soekarno adalah Konferensi Asia Afrika pada 1955. Bangsa-bangsa Asia dan Afrika, terutama yang belum merdeka, memenuhi undangan Soekarno untuk menghadiri Konferensi Bandung itu, untuk menuntut kemerdekaannya.

Akhirnya, Ben Mboi pun menyadari bahwa "oleh bangsa-bangsa Afrika Soekarno disamakan dengan Musa yang membawa orang Israel keluar dari perbudakan Mesir. Dan kita, orang Indonesia, mencampakkan dia dari ingatan sejarah.

Mohon Maaf Bung Karno !!



Sumber: http://share.babe.news/s/cxRQQwxsTR